pengantar pendidikan kesehatan bagi klien, matkul promosi kesehatan


MAKALAH
KONSEP DASAR PENDIDIKAN
DAN
PROMOSI KESEHATAN


Disusun oleh :
Ulfa Mursidah (191000214201005)

Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kesehatan Dan Mipa
Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
2019/2020


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT.yang maha pengasih lagi maha penyayang, Saya  panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahakan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada Saya, sehingga Saya dapat menyelesaikan makalah Konsep Dasar Pendidikan dan Promosi Kesehatan
Makalah ini telah Saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka Saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar Saya dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata Saya  berharap semoga makalah Konsep Dasar Pendidikan dan Promosi Kesehatan ini dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca. Terimakasih

Bukittinggi, 19 Maret 2020


Penulis                        







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR          
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang     
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAAN
            1.Bagaimana pengantar pendidikan kesehatan bagi klien ?
2.Bagaimana konsep dan teori belajar mengajar ?
3. Apa saja peran perawat dalam promosi kesehatan ?
            4. Bagaimana domain belajar ?

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan          
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA           








BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangssa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup.
Pendidikan merupakan usaha yang dilaksanakan secara sadar untuk mewujudkan suasana belajar serta menuntut peserta didik untuk menggali potensi diri serta berperan aktif dalam prosesnya. Seperti kita ketahui selama ini pendidik dan pengajar merupakan satu pengertian namun sebenarnya kedua kata itu berbeda arti, pendidik merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk membentuk karakter seseorang serta mentransfer nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan, sedangkan pengajar merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk mentransfer ilmu yang sudah dipelajarinya.
Belajar merupakan perubahan tingkah laku dan kemampuan manusia dan juga proses perubahan tingkah laku yang relative permanen akibat dari latihan atau pengalaman yang dialami oleh seseorang, sedangkan mengajar merupakan interaksi antara dua orang atau lebih untuk memberikan pengetahuan dan mengubah atau membentuk perilaku seseorang.

1.2 Rumusan Masalah
1.Bagaimana pengantar pendidikan kesehatan bagi klien ?
2.Bagaimana konsep dan teori belajar mengajar ?
3. Apa saja peran perawat dalam promosi kesehatan ?
            4. Bagaimana domain belajar ?

1.3 Tujuan
Saya berharap dengan makalah ini, pembaca dapat memahami bagaimana proses belajar mengajar dalam memberikan pendidikan kesehatan pada klien.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengantar pendidikan Kesehatan Bagi Klien
A. Pengertian pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan secera umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan. (Notoadmojo, 2012)
Tujuan pendidikan kesehatan merupakan domain yang akan dituju dari pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan memiliki beberapa tujuan antara lain : pertama, tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta peran aktif dalam upaya mewujudkan derejat kesehatan yang optimal. Kedua, terbentuknya prilaku sehat pada individu, keluarga dan masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka sakit dan kematian.
B. Pendidikan kesehatan bagi klien
Menurut Tones dalam De Leeuw (1989), pendidikan kesehatan berfungsi untuk membangkitkan keinsyafan dalam masyarakat tentang aspek-aspek kerugian kesehatan lingkungan dan sumber sumber sosial penyakit, yang secara ideal diikuti dengan keterlibatan masyarakat dengan giat. Secara sederhana, pendidikan kesehatan berfungsi sebagai pembangkit kesadaran klien akan kekeliruan yang sebelumnya telah menjadi gaya hidup dan kebiasaan serta sebagai pemicu keinginan untuk mengubahnya.
Pendidikan kesehatan berperan penting dalam membantu klien mengontrol kesehatan mereka sendiri dengan mempengaruhi serta menguatkan keputusan atas tindakan sesuai dengan diri mereka sendiri. Menurut Bastable dalam Perawat Sebagai Pendidikan: Prinsip-prinsip Pengajaran dan Pendidik (2002), pendidikan kesehatan bagi klien memiliki peran penting:
1.      Meningkatkan kepuasan klien sebagai konsumen
2.      Memperbaiki kualitas kehidupan
3.      Memastikan kelangsungan perawatan
4.      Secara efektif mengurangi insiden komplikasi penyakit
5.      Memasyarakatkan masalah kepatuhan terhadap rencana-rencana pemberian perawatan kesehatan.
6.      Memicu klien mematuhi rencana pengobatan medis
7.      Membantu klien lebih pandai mengatasi gejala penyakit
Melalui pendidikan kesehatan, perawat melatih klien untuk meningkatkan kemandirian dalam merawat dirinya. Ketika klien memperoleh pengetahuan tentang sakitnya, klien akan mampu memahami dan memenuhi kebutuhan pribadi terkait sakitnya yang nantinya akan mendukung kesembuhan serta mencegah terjadinya komplikasi penyakit. Setelah mencapai kesembuhan, klien dan keluarga klien pun akan memiliki keterampilan untuk mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan.

2.2 Konsep dan Teori Belajar Mengajar
A. Konsep Belajar
Kadang-kadang bahan pengajaran disamakan dengan pendidikan. Belajar adalah usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup, akan tetapi konsep Eropa, arti belajar itu agak sempit hanya mencakup menghafal, mengingat mereproduksi sesuatu yang dipelajari.
a. Proses Belajar  
1) Latihan
Latihan adalah penyempurnaan potensi tenaga-tenaga yang ada dengan mengulang-ulang aktivitas tertentu.
2) Menambah/Memperoleh tingkah laku baru
Belajar sebenarnya adalah suatu usaha untuk memperoleh hal-hal (nilai-nilai) dengan aktivitas kejiwaan sendiri.
b. Ciri-ciri Kegiatan Belajar
1. Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang sedang belajar baik actual maupun potensial
2. Perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama.
3. Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha, bukan karena proses kematangan

B. Beberapa Teori Proses Belajar
Teori stimulus, respon yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori transformasi yang memperhitungkan faktor internal. Sedangkan kelompok teori belajar yang kedua sudah memperhitungkan faktor internal maupun eksternal. Para ahli psikologi kognitif juga memperhitungkan faktor eksternal dan internal di dalam mengembangkan teorinya. Selanjutnya mereka menjelaskan bahwa perencanaan  pengajaran hendaknya berdasarkan pada pengetahuan tentang subjek belajar agar dapat dirancang metode  pengajaran berdasarkan teori belajar yang tepat.
Teori-teori Belajar Sosial (Social Learning)
a. Teori belajar sosial dan tiruan dari NE Miller dan M. Dollard
1) Tingkah laku sama (same behavior)
2) Tingkah laku tergantung (matched depend behavior)
3) Tingkah laku salinan (copying behavior) 
b. Teori belajar sosial A Bandura dan RH Wailer
1) Efek modeling (modeling effect)
Peniru melakukan tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
2) Efek penghambat (inhabitation) dan Penghapus hambatan (dis inhabitations)
Tingkah laku-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku-tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.
3) Efek kemudahan (facilitation effect)
Tingkah laku tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Proses Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
1) Metode
Metode pendidikan individu, kelompok, dan massa (public):
a. Metode Pendidikan Individu
1) Bimbingan dan penyuluhan (guidance dan concerning)
àDengan cara ini kontrak antara klien dan petugas lebih intensif
2) Wawancara (inteview)
àCara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan.  
b. Metode Pendidikan Kelompok
Efektivitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan:
1) Kelompok besar (15 orang)
àMetode yang baik untuk kelompok ini:  Ceramah atau seminar
2) Kelompok kecil (< 15 orang)
à Diskusi kelompok (bebas berpartisipasi dalam diskusi) atau curah pendapat (brain storming)
c. Metode Pendidikan Massa
1. Ceramah umum (publik speaking), pada cara-cara tertentu misalnya pada hari kesehatan nasional, dll.
2. Pidato-pidato/diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun Radio, pada hakikatnya merupakan bentuk pendidikan kesehatan
3. Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit.
4. Sinetron Dokter Sartika dalam acara TV pada tahun 1990-an juga merupakan bentuk pendekatan  pendidikan kesehatan massa.
5. Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab/konsultasi tentang kesehatan.

D. Alat Bantu/Peraga/Media Belajar
a. Pengertian
Alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan  pendidikan/pengajaran. Alat bantu ini lebih sering disebut sebagai alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu di dalam proses pendidikan/pengajaran.
b. Manfaat Alat Bantu
1) Menimbulkan minat sasaran pendidikan
2) Mencapai sasaran yang lebih banyak
3) Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
4) Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain.
5) Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik/pelaku pendidikan.
6) Mendorong keinginan untuk mengetahui kemudian lebih mendalami dan akhirnya mendapatkan  pengertian yang lebih baik.
7) Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh

E. Enam faktor yang dapat menghambat proses belajar pada orang dewasa:
1. Dengan bertambahnya usia titik dekat penglihatan atau titik tedekat yang dapat dilihat secara jelas mulai bergerak makin jauh.
2. Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglihatan atau titik yang dapat dilihat secara jelas mulai  berkurang (makin pendek).
3. Makin bertambah usia, makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu situasi  belajar.
4. Makin bertambah usia, persepsi kontras warna cenderung kearah merah
5. Makin bertambah usia, kemampuan pendengaran mulai menurun.
6. Makin bertambah usia, kemampuan untuk membedakan bunyi makin berkurang.

2.3 Peran Perawat dalam Promosi Kesehatan
Secara mendasar, dalam promosi kesehatan perawat memiliki peran sebagai berikut menurut (Setyowati, 2007):
1.  Pemberi layanan keperawatan. Perawat memberikan pelayanan keperawatan secara langsung maupun tidak langsung melalui pendekatan proses keperawatan kepada individu, keluarga, maupun kelompok masyarakat.
2.  Pendidik. Perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada klien secara mandiri maupun melibatkan kader kesehatan.
3. Pengelola. Perawat merencanakan, mengorganisasi, menggerakkan, dan mengevaluasi pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak langsung dengan melibatkan peran aktif masyarakat dalam kegiatan keperawatan komunitas.
4.  Konselor. Perawat memberi konseling atau bimbingan kepada kader, keluarga, atau kelompok mengenai masalah kesehatan komunitas.
5. Advokator. Perawat harus melindungi dan memfasilitasi keluarga maupun masyarakat dalam pelayanan keperawatan komunitas.
6. Peneliti. Perawat melakukan penelitian untuk dapat mengembangkan keperawatan komunitas.

2.4 Domain Belajar
Domain belajar atau sebutan lainnya, ranah, dapat diartikan sebagai cakupan dalam proses belajar. Domain belajar terbagi atas 3, antara lain :
1. Kognitif
Kognitif adalah aktivitas mental dalam mengenal dan mengetahui tentang dunia. Kognitif mencakup semua aspek intelektual yang terdiri dari kemampuan berpikir, menganalisa, evaluasi, serta pemahaman. Terdapat 5 cakupan dalam kognitif, yaitu:
a. Knowledge, dengan pengetahuan maka akan didapatkan sebuah fakta dan informasi baru. Contohnya klien mengetahui tentang penyakit yang dideritanya
b. Comprehension, pemahaman adalah kemampuan untuk memahami materi yang dipelajari. Contoh, klien mampu menguraikan secara spesifik bagaimana obat-obat yang baru diberikan untuknya akan dapat meningkatkan kesehatan fisiknya.
c. Application, aplikasi atau penerapan mencakup penggunaan informasi yang baru diketahuinya untuk diterapkan dalam situasi yang tepat. Contoh, klien dapat mengatur jadwal makannya setelah diberi informasi oleh perawat.
d. Analysis, konsep analisis di sini adalah mengaitkan gagasan yang satu dengan yang lain dengan cara-cara yang tepat. Contoh, klien mampu memisahkan informasi penting dan tidak penting pada penggunaan obat terutama menanggapi mitos yang berkembang di masyarakat.
e. Synthesis, klien mampu menerapkan semua yang dia dapat selama berada di rumah sakit
f. Evaluation, klien mampu menyadari kebutuhan akan informasi kesehatan.

2. Afektif
Afektif terdiri dari perilaku, sikap, minat, konsep diri, tanggung jawab, serta pengendalian diri, serta pembentukan karakter seseorang. Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Terdapat 5 cakupan, yaitu :
a. Receiving
Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
b. Responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
c. Valueing
Valeuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini.diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
d. Organizing
Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
e. Characterizing
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
a. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran.
b. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Penilaian minat dapat digunakan untuk:
- Mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
- Mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
- Menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
- Mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,
- Mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
- Meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
c. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Arah konsep diri bisa positif atau negatif. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut.
• Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
• Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
• Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
• Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
• Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
• Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
• Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
• Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
• Peserta didik mampu menilai dirinya.
d. Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968), nilai merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
e. Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
3. Psikomotor
Psikomotor terdiri dari praktik, fisik, keterampilan serta motorik. Terdapat tujuh cakupan, yaitu:
a.       Persepsi,
Berkaitan dengan pemahaman. Keadaan yang menyadari suatu objek atau kualitas penggunaan seluruh organ indra. Misalnya, setelah mendengarkan bunyi mobil ambulans, orang tersebut akan menyetir mobilnya ke tepi untuk menghindari kecelakaan.
b.      Set,
Yang diset adalah mental, fisik, dan emosi. Ada tiga perangkat, mental, fisik, dan emosi. Sebagai contoh, seseorang menggunakan penilaian untuk menentukan cara terbaik untuk melakukan tindakan motorik. Sebelum melakukan tindakan, seperti bangun dari kursi roda, seseorang berada pada bentuk dan posisi tubuh yang sesuai. Klien mungkin membuat komitmen untuk menjalankan latihan tertentu secara teratur.
c.       Respons terbimbing,
Akan kinerja suatu tindakan, di bawah bimbingan seorang instructor. Hal ini merupakan tindakan meniru dari tindakan yang didemonstrasikan. Sebagai contoh, klien menyiapkan injeksi insulin setelah memperhatikan contoh dari perawat dan mencoba untuk menirunya dengan benar.
d.      Mekanisme,
Mekanisme merupakan tingkat perilaku yang lebih tinggi di mana seseorang telah memiliki kepercayaan diri dan keterampilan dalam melakukan perilaku tertentu. Sebagai contoh, klien mampu mengeluarkan sejumlah insulin dengan jarum suntik dari dosis yang berbeda.
e.       Respons kompleks terbuka,
Seseorang memperlihatkan ketrampilan secara halus dan benar tanpa ragu-ragu. Sebagai contoh, klien dapat menyuntikkan insulin secara mandiri pada berbagai tempat penyuntikkan.
f.       Adaptasi,
Terjadi bila seseorang mampu mengubah respon motorik ketika muncul masalah yang tidak diduga. Sebagai contoh, ketika perawat menyuntik, munculnya darah dalam alat suntikan karena diaspirasi mengakibatkan perubahan cara memegang alat suntik.
g.      Keaslian,
Merupakan aktivitas motorik yang paling kompleks yang mencakup penciptaan pola gerakan yang baru. Seseorang bertindak berdasarkan kemampuan dan Keaslian ketrampilan psikomotor yang ada. Sebagai contoh, seorang perawat menggunakan metode yang lain untuk penusukan vena pada klien yang mengalami pembengkakan tangan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berbagai masalah kesehatan dalam masyarakat seringkali disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan kesadaran, ketidakmampuan, serta rendahnya motivasi masyarakat mengenai pentingnya tindakan pencegahan penyakit. Fenomena tersebut tentunya tidak akan merubah kondisi kesehatan masyarakat di Indonesia karena masyarakat cenderung hanya memedulikan pengobatan daripada pencegahan penyakit. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, perawat tentu turut aktif dalam memperbaiki pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap perilaku kesehatan yang benar, yaitu dengan dilakukannya promosi kesehatan. Promosi kesehatan cenderung tertuju pada perawat komunitas, karena memiliki fokus terhadap upaya promotif dan preventif. Dalam upaya promosi kesehatan tersebut terjadi proses alih peran perawat kesehatan komunitas kepada individu, keluarga, atau kelompok sehingga diharapkan dapat memandirikan masyarakat terkait pola pikir maupun perilaku kesehatan yang baik (Jaji, 2012).
Peran perawat tidak hanya terfokus sebagai care giver, namun juga sangat penting untuk dapat mendidik masyarakat dalam memperbaiki perilaku sehat dengan dilakukan penyuluhan kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat supaya mereka dapat lebih mandiri dan peduli mengenai pentingnya tindakan pencegahan sakit daripada pengobatan saat sakit.

3.2 Saran
Bagi para pembaca pada umumnya dan perawat pada khususnya disarankan agar mengerti tentang pendidikan, mengajar dan belajar maupun domain belajar itu sendiri. Selain itu pendidikan, belajar dan mengajar merupakan hal yang sangat penting. Hal ini akan mempermudah petugas kesehatan dalam melakukan pendidikan pada pelayanan kesehatan.










DAFTAR PUSTAKA



Comments

Popular posts from this blog

makalah komunikasi pembelajaran dalam proses pembelajaran kesehatan pada klien matkul promosi kesehatan