pengantar pendidikan kesehatan bagi klien, matkul promosi kesehatan
MAKALAH
KONSEP
DASAR PENDIDIKAN
DAN
PROMOSI
KESEHATAN
Disusun
oleh :
Ulfa
Mursidah (191000214201005)
Program
Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas
Kesehatan Dan Mipa
Universitas
Muhammadiyah Sumatera Barat
2019/2020
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT.yang maha pengasih
lagi maha penyayang, Saya panjatkan puja
dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahakan rahmat, hidayah
dan inayah-Nya
kepada Saya, sehingga Saya
dapat menyelesaikan makalah Konsep Dasar Pendidikan dan Promosi Kesehatan
Makalah ini telah Saya susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya
bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka Saya menerima segala saran dan
kritik dari pembaca agar Saya dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata Saya
berharap semoga makalah Konsep Dasar Pendidikan dan Promosi
Kesehatan ini dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca. Terimakasih
Bukittinggi,
19 Maret 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
1.2
Rumusan
masalah
1.3
Tujuan
BAB II PEMBAHASAAN
1.Bagaimana pengantar pendidikan
kesehatan bagi klien ?
2.Bagaimana
konsep dan teori belajar mengajar ?
3.
Apa saja peran perawat dalam promosi kesehatan ?
4. Bagaimana domain belajar ?
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
3.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang
hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya
penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Salah satu
tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangssa, yang berarti memenuhi
kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan,
lapangan kerja dan ketenteraman hidup.
Pendidikan
merupakan usaha yang dilaksanakan secara sadar untuk mewujudkan suasana belajar
serta menuntut peserta didik untuk menggali potensi diri serta berperan aktif
dalam prosesnya. Seperti kita ketahui selama ini pendidik dan pengajar
merupakan satu pengertian namun sebenarnya kedua kata itu berbeda arti,
pendidik merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk membentuk karakter
seseorang serta mentransfer nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan, sedangkan
pengajar merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk mentransfer ilmu yang
sudah dipelajarinya.
Belajar merupakan
perubahan tingkah laku dan kemampuan manusia dan juga proses perubahan tingkah
laku yang relative permanen akibat dari latihan atau pengalaman yang dialami
oleh seseorang, sedangkan mengajar merupakan interaksi antara dua orang atau
lebih untuk memberikan pengetahuan dan mengubah atau membentuk perilaku
seseorang.
1.2
Rumusan Masalah
1.Bagaimana pengantar pendidikan kesehatan bagi klien ?
2.Bagaimana
konsep dan teori belajar mengajar ?
3.
Apa saja peran perawat dalam promosi kesehatan ?
4. Bagaimana domain belajar ?
1.3 Tujuan
Saya berharap
dengan makalah ini, pembaca dapat memahami bagaimana proses belajar mengajar
dalam memberikan pendidikan kesehatan pada klien.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengantar pendidikan Kesehatan Bagi Klien
A. Pengertian pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan secera umum adalah segala upaya
yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau
masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.
Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah
perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
yang kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan. (Notoadmojo, 2012)
Tujuan pendidikan kesehatan merupakan domain yang
akan dituju dari pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan memiliki beberapa
tujuan antara lain : pertama, tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga
dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat,
serta peran aktif dalam upaya mewujudkan derejat kesehatan yang optimal. Kedua,
terbentuknya prilaku sehat pada individu, keluarga dan masyarakat yang sesuai
dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan sosial sehingga dapat
menurunkan angka sakit dan kematian.
B. Pendidikan kesehatan bagi klien
Menurut Tones dalam
De Leeuw (1989), pendidikan kesehatan
berfungsi untuk membangkitkan keinsyafan dalam masyarakat tentang aspek-aspek
kerugian kesehatan lingkungan dan sumber sumber sosial penyakit, yang secara
ideal diikuti dengan keterlibatan masyarakat dengan giat. Secara sederhana,
pendidikan kesehatan berfungsi sebagai pembangkit kesadaran klien akan
kekeliruan yang sebelumnya telah menjadi gaya hidup dan kebiasaan serta sebagai
pemicu keinginan untuk mengubahnya.
Pendidikan
kesehatan berperan penting dalam membantu klien mengontrol kesehatan mereka
sendiri dengan mempengaruhi serta menguatkan keputusan atas tindakan sesuai
dengan diri mereka sendiri. Menurut Bastable dalam Perawat Sebagai Pendidikan: Prinsip-prinsip Pengajaran dan Pendidik
(2002), pendidikan kesehatan bagi klien memiliki peran penting:
1. Meningkatkan
kepuasan klien sebagai konsumen
2. Memperbaiki
kualitas kehidupan
3. Memastikan
kelangsungan perawatan
4. Secara
efektif mengurangi insiden komplikasi penyakit
5. Memasyarakatkan
masalah kepatuhan terhadap rencana-rencana pemberian perawatan kesehatan.
6. Memicu
klien mematuhi rencana pengobatan medis
7. Membantu
klien lebih pandai mengatasi gejala penyakit
Melalui pendidikan
kesehatan, perawat melatih klien untuk meningkatkan kemandirian dalam merawat
dirinya. Ketika klien memperoleh pengetahuan tentang sakitnya, klien akan mampu
memahami dan memenuhi kebutuhan pribadi terkait sakitnya yang nantinya akan mendukung
kesembuhan serta mencegah terjadinya komplikasi penyakit. Setelah mencapai
kesembuhan, klien dan keluarga klien pun akan memiliki keterampilan untuk
mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan.
2.2 Konsep dan Teori Belajar Mengajar
A. Konsep Belajar
Kadang-kadang bahan
pengajaran disamakan dengan pendidikan. Belajar adalah usaha untuk menguasai
segala sesuatu yang berguna untuk hidup, akan tetapi konsep Eropa, arti belajar
itu agak sempit hanya mencakup menghafal, mengingat mereproduksi sesuatu yang
dipelajari.
a.
Proses Belajar
1) Latihan
Latihan adalah
penyempurnaan potensi tenaga-tenaga yang ada dengan mengulang-ulang aktivitas
tertentu.
2) Menambah/Memperoleh tingkah laku baru
Belajar sebenarnya
adalah suatu usaha untuk memperoleh hal-hal (nilai-nilai) dengan aktivitas
kejiwaan sendiri.
b.
Ciri-ciri Kegiatan Belajar
1. Belajar adalah
kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang sedang belajar
baik actual maupun potensial
2. Perubahan
tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk
waktu yang relatif lama.
3.
Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha, bukan karena proses kematangan
B. Beberapa Teori Proses Belajar
Teori stimulus,
respon yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori transformasi yang
memperhitungkan faktor internal. Sedangkan kelompok teori belajar yang kedua
sudah memperhitungkan faktor internal maupun eksternal. Para ahli psikologi
kognitif juga memperhitungkan faktor eksternal dan internal di dalam
mengembangkan teorinya. Selanjutnya mereka menjelaskan bahwa perencanaan pengajaran hendaknya berdasarkan pada
pengetahuan tentang subjek belajar agar dapat dirancang metode pengajaran berdasarkan teori belajar yang
tepat.
Teori-teori Belajar Sosial (Social Learning)
a. Teori belajar sosial dan tiruan dari NE Miller dan M.
Dollard
1) Tingkah laku
sama (same behavior)
2) Tingkah laku
tergantung (matched depend behavior)
3) Tingkah laku
salinan (copying behavior)
b. Teori belajar sosial A Bandura dan RH Wailer
1) Efek modeling
(modeling effect)
Peniru melakukan
tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
2) Efek penghambat
(inhabitation) dan Penghapus hambatan (dis inhabitations)
Tingkah
laku-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat
timbulnya, sedangkan tingkah laku-tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku
model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi
nyata.
3) Efek kemudahan
(facilitation effect)
Tingkah laku tingkah
laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan
mengamati tingkah laku model.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Proses Belajar dan
Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
1) Metode
Metode pendidikan
individu, kelompok, dan massa (public):
a. Metode
Pendidikan Individu
1) Bimbingan dan
penyuluhan (guidance dan concerning)
à Dengan cara ini kontrak antara klien dan petugas lebih
intensif
2) Wawancara
(inteview)
à Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan
penyuluhan.
b. Metode
Pendidikan Kelompok
Efektivitas suatu
metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan:
1) Kelompok besar
(15 orang)
à Metode yang baik untuk kelompok ini: Ceramah atau seminar
2) Kelompok kecil
(< 15 orang)
à Diskusi kelompok (bebas berpartisipasi dalam
diskusi) atau curah pendapat (brain storming)
c. Metode
Pendidikan Massa
1. Ceramah umum
(publik speaking), pada cara-cara tertentu misalnya pada hari kesehatan
nasional, dll.
2.
Pidato-pidato/diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun
Radio, pada hakikatnya merupakan bentuk pendidikan kesehatan
3. Simulasi, dialog
antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu
penyakit.
4. Sinetron Dokter
Sartika dalam acara TV pada tahun 1990-an juga merupakan bentuk pendekatan
pendidikan kesehatan massa.
5. Tulisan-tulisan
di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab/konsultasi
tentang kesehatan.
D. Alat Bantu/Peraga/Media Belajar
a. Pengertian
Alat bantu
pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan
bahan pendidikan/pengajaran. Alat bantu ini lebih sering disebut sebagai
alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu di dalam
proses pendidikan/pengajaran.
b. Manfaat Alat Bantu
1) Menimbulkan
minat sasaran pendidikan
2) Mencapai sasaran
yang lebih banyak
3) Membantu dalam
mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
4) Merangsang
sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang
lain.
5) Mempermudah
penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik/pelaku pendidikan.
6) Mendorong
keinginan untuk mengetahui kemudian lebih mendalami dan akhirnya mendapatkan
pengertian yang lebih baik.
7) Membantu
menegakkan pengertian yang diperoleh
E. Enam faktor yang dapat menghambat proses belajar pada
orang dewasa:
1. Dengan
bertambahnya usia titik dekat penglihatan atau titik tedekat yang dapat dilihat
secara jelas mulai bergerak makin jauh.
2. Dengan
bertambahnya usia, titik dekat penglihatan atau titik yang dapat dilihat secara
jelas mulai berkurang (makin pendek).
3. Makin bertambah
usia, makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu situasi
belajar.
4. Makin bertambah usia,
persepsi kontras warna cenderung kearah merah
5. Makin bertambah
usia, kemampuan pendengaran mulai menurun.
6. Makin bertambah
usia, kemampuan untuk membedakan bunyi makin berkurang.
2.3 Peran Perawat dalam Promosi Kesehatan
Secara mendasar,
dalam promosi kesehatan perawat memiliki peran sebagai berikut menurut (Setyowati, 2007):
1. Pemberi layanan keperawatan. Perawat
memberikan pelayanan keperawatan secara langsung maupun tidak langsung melalui
pendekatan proses keperawatan kepada individu, keluarga, maupun kelompok
masyarakat.
2. Pendidik. Perawat memberikan pendidikan
kesehatan kepada klien secara mandiri maupun melibatkan kader kesehatan.
3. Pengelola.
Perawat merencanakan, mengorganisasi, menggerakkan, dan mengevaluasi pelayanan
keperawatan secara langsung dan tidak langsung dengan melibatkan peran aktif
masyarakat dalam kegiatan keperawatan komunitas.
4. Konselor. Perawat memberi konseling atau
bimbingan kepada kader, keluarga, atau kelompok mengenai masalah kesehatan komunitas.
5. Advokator.
Perawat harus melindungi dan memfasilitasi keluarga maupun masyarakat dalam
pelayanan keperawatan komunitas.
6. Peneliti.
Perawat melakukan penelitian untuk dapat mengembangkan keperawatan komunitas.
2.4 Domain Belajar
Domain belajar atau
sebutan lainnya, ranah, dapat diartikan sebagai cakupan dalam proses belajar.
Domain belajar terbagi atas 3, antara lain :
1. Kognitif
Kognitif adalah
aktivitas mental dalam mengenal dan mengetahui tentang dunia. Kognitif mencakup
semua aspek intelektual yang terdiri dari kemampuan berpikir, menganalisa,
evaluasi, serta pemahaman. Terdapat 5 cakupan dalam kognitif, yaitu:
a. Knowledge, dengan pengetahuan maka akan
didapatkan sebuah fakta dan informasi baru. Contohnya klien mengetahui tentang
penyakit yang dideritanya
b. Comprehension, pemahaman adalah
kemampuan untuk memahami materi yang dipelajari. Contoh, klien mampu
menguraikan secara spesifik bagaimana obat-obat yang baru diberikan untuknya
akan dapat meningkatkan kesehatan fisiknya.
c. Application, aplikasi atau penerapan
mencakup penggunaan informasi yang baru diketahuinya untuk diterapkan dalam
situasi yang tepat. Contoh, klien dapat mengatur jadwal makannya setelah diberi
informasi oleh perawat.
d. Analysis, konsep analisis di sini adalah
mengaitkan gagasan yang satu dengan yang lain dengan cara-cara yang tepat.
Contoh, klien mampu memisahkan informasi penting dan tidak penting pada
penggunaan obat terutama menanggapi mitos yang berkembang di masyarakat.
e. Synthesis, klien mampu menerapkan semua
yang dia dapat selama berada di rumah sakit
f. Evaluation, klien mampu menyadari
kebutuhan akan informasi kesehatan.
2. Afektif
Afektif terdiri
dari perilaku, sikap, minat, konsep diri, tanggung jawab, serta pengendalian
diri, serta pembentukan karakter seseorang. Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar
seseorang. Terdapat 5 cakupan, yaitu :
a. Receiving
Pada tingkat
receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu
fenomena khusus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas
pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek
pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang
membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi
kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
b. Responding
Responding
merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari
perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena
khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan
pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam
memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat. Misalnya
senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan
kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
c. Valueing
Valeuing melibatkan
penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan komitmen. Derajat
rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk
meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Hasil belajar pada
tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai
dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini.diklasifikasikan
sebagai sikap dan apresiasi.
d. Organizing
Pada tingkat
organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai
diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil
pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi
sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
e. Characterizing
Tingkat ranah
afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik
memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu
hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan
dengan pribadi, emosi, dan sosial.
Ada 5 tipe
karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan
moral.
a. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah
suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif
terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap
objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran.
b. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu
disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk
memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan
perhatian atau pencapaian. Penilaian minat dapat digunakan untuk:
- Mengetahui minat
peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
- Mengetahui bakat
dan minat peserta didik yang sebenarnya,
- Menggambarkan
keadaan langsung di lapangan/kelas,
- Mengelompokkan
peserta didik yang memiliki minat sama,
- Mengetahui
tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
- Meningkatkan
motivasi belajar peserta didik.
c. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang
dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Arah konsep
diri bisa positif atau negatif. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai
berikut.
• Pendidik mampu
mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
• Memberikan
motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
• Peserta didik
lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
• Peserta didik
dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
• Melatih kejujuran
dan kemandirian peserta didik.
• Peserta didik
mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
• Peserta didik
memahami kemampuan dirinya.
• Peserta didik
belajar terbuka dengan orang lain.
• Peserta didik
mampu menilai dirinya.
d. Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968), nilai merupakan suatu
keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan
yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu
organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan
nilai mengacu pada keyakinan.
e. Moral
Moral berkaitan
dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan
terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain,
membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral
juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan
perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip,
nilai, dan keyakinan seseorang.
3. Psikomotor
Psikomotor terdiri
dari praktik, fisik, keterampilan serta motorik. Terdapat tujuh cakupan, yaitu:
a. Persepsi,
Berkaitan dengan pemahaman. Keadaan yang
menyadari suatu objek atau kualitas penggunaan seluruh organ indra. Misalnya,
setelah mendengarkan bunyi mobil ambulans, orang tersebut akan menyetir
mobilnya ke tepi untuk menghindari kecelakaan.
b. Set,
Yang
diset adalah mental, fisik, dan emosi. Ada tiga perangkat, mental, fisik, dan
emosi. Sebagai contoh, seseorang menggunakan penilaian untuk menentukan cara
terbaik untuk melakukan tindakan motorik. Sebelum melakukan tindakan, seperti
bangun dari kursi roda, seseorang berada pada bentuk dan posisi tubuh yang
sesuai. Klien mungkin membuat komitmen untuk menjalankan latihan tertentu
secara teratur.
c. Respons terbimbing,
Akan
kinerja suatu tindakan, di bawah bimbingan seorang instructor. Hal ini
merupakan tindakan meniru dari tindakan yang didemonstrasikan. Sebagai contoh,
klien menyiapkan injeksi insulin setelah memperhatikan contoh dari perawat dan
mencoba untuk menirunya dengan benar.
d. Mekanisme,
Mekanisme
merupakan tingkat perilaku yang lebih tinggi di mana seseorang telah memiliki
kepercayaan diri dan keterampilan dalam melakukan perilaku tertentu. Sebagai contoh, klien mampu mengeluarkan
sejumlah insulin dengan jarum suntik dari dosis yang berbeda.
e. Respons kompleks
terbuka,
Seseorang
memperlihatkan ketrampilan secara halus dan benar tanpa ragu-ragu. Sebagai
contoh, klien dapat menyuntikkan insulin secara mandiri pada berbagai tempat
penyuntikkan.
f. Adaptasi,
Terjadi
bila seseorang mampu mengubah respon motorik ketika muncul masalah yang tidak
diduga. Sebagai contoh, ketika perawat menyuntik, munculnya darah dalam alat
suntikan karena diaspirasi mengakibatkan perubahan cara memegang alat suntik.
g. Keaslian,
Merupakan
aktivitas motorik yang paling kompleks yang mencakup penciptaan pola gerakan
yang baru. Seseorang bertindak berdasarkan kemampuan dan Keaslian ketrampilan
psikomotor yang ada. Sebagai contoh, seorang perawat menggunakan metode yang
lain untuk penusukan vena pada klien yang mengalami pembengkakan tangan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berbagai masalah kesehatan dalam masyarakat seringkali
disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan kesadaran, ketidakmampuan, serta rendahnya
motivasi masyarakat mengenai pentingnya tindakan pencegahan penyakit. Fenomena
tersebut tentunya tidak akan merubah kondisi kesehatan masyarakat di Indonesia
karena masyarakat cenderung hanya memedulikan pengobatan daripada pencegahan
penyakit. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, perawat tentu turut aktif dalam
memperbaiki pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap perilaku kesehatan yang
benar, yaitu dengan dilakukannya promosi kesehatan. Promosi kesehatan cenderung
tertuju pada perawat komunitas, karena memiliki fokus terhadap upaya promotif
dan preventif. Dalam upaya promosi kesehatan tersebut terjadi proses alih peran
perawat kesehatan komunitas kepada individu, keluarga, atau kelompok sehingga
diharapkan dapat memandirikan masyarakat terkait pola pikir maupun perilaku kesehatan
yang baik (Jaji, 2012).
Peran perawat tidak hanya terfokus sebagai care giver,
namun juga sangat penting untuk dapat mendidik masyarakat dalam memperbaiki
perilaku sehat dengan dilakukan penyuluhan kesehatan maupun pemberdayaan
masyarakat supaya mereka dapat lebih mandiri dan peduli mengenai pentingnya
tindakan pencegahan sakit daripada pengobatan saat sakit.
3.2 Saran
Bagi para pembaca pada umumnya dan perawat pada khususnya
disarankan agar mengerti tentang pendidikan, mengajar dan belajar maupun domain
belajar itu sendiri. Selain itu pendidikan, belajar dan mengajar merupakan hal
yang sangat penting. Hal ini akan mempermudah petugas kesehatan dalam melakukan
pendidikan pada pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Comments
Post a Comment